• Home
  • Hi!
  • Thought
  • Review
  • Trip
instagram

The Random Journal

Wow, ternyata udah sembilan juta delapan ratus empat puluh sembilan ribu enam ratus detik aku ga ngeblog. Pantesan aja tadi sempet lupa gimana cara login ke blogspot :)) Akibat mood yang timbul tenggelam jadilah komitmen menulis seminggu satu postingan hanya wacana belaka, padahal banyak banget pikiran-pikiran yang pingin diungkapin.

Okay, sementara di luar berisik banget sama suara knalpot motor dan terompet yang ditiup orang-orang yang mau taun baruan, mumpung lagi ada mood, i wanna write about something.

As we know, beberapa waktu yang lalu tepatnya tanggal 22 Desember 2018, negara kita, Indonesia baru saja mengalami bencana tsunami di Selat Sunda. Tentunya bencana ini membuat seluruh rakyat Indonesia bersedih. And Thanks, God, masih banyak banget orang-orang yang peduli akan sesamanya. Banyak orang yang memberikan bantuan baik berupa materi maupun non materi kepada saudara-saudara kita yang tertimpa musibah. Bahkan dari salah satu platform crowdfunding yang populer di Indonesia, aku bisa melihat pergerakan penggalangan dana yang sangat cepat. Dalam waktu satu malam saja, dana yang terkumpul mencapai puluhan juta rupiah. Alhamdulillah masih banyak orang baik di negara ini.

Tapiiiiii...

Sayangnya ada tapinya nih. Ada beberapa gelintir orang yang kelakuan dan pikirannya agak-agak ga beres. Humanity-nya patut dipertanyakan. Aku sampe ga habis pikir, ko ada ya orang yang kaya gini.

Jadi beberapa hari yang lalu aku baca artikel tentang orang-orang yang ber-selfie ria di lokasi bencana tsunami Selat Sunda. Background selfie mereka bener-bener lahan banjir yang dipenuhi mobil-mobil dan semua yang hancur akibat tsunami. Yang bikin aku 'gemas' sih ekspresi mereka yang sama sekali tidak menunjukkan simpati pada korban. Senyum-senyum manis gitu, malah ada yang sambil mengacungkan jarinya membentuk huruf V.

Menurut Jamie Fullerton, seorang jurnalis The Guardian yang menulis artikel 'Destruction gets more likes': Indonesia's tsunami selfie-seekers, salah satu orang yang berselfie di lokasi bencana bilang gini, "The photo is on Facebook as proof that we are really here and gave the aid." Kesel banget ga sih dengernya? Kalo aku sih kesel.

Kalau memang pingin ngasih liat bahwa mereka sudah bener-bener kesana dan memberikan bantuan, ya ga usah selfie sambil senyum-senyum juga kali ah. Bisa kan fotoin pas serah terima bantuannya, walaupun agak ga setuju juga karena jadinya terkesan riya. Tapi pastinya masih banyak cara yang pantas daripada selfie sambil senyum-senyum gitu.

Masih menurut artikelnya Fullerton, ada korban yang mengaku kecewa dan sedih melihat kelakuan-kelakuan 'aneh' selfie seekers itu. Wajar banget sih, aku aja yang ga lihat langsung kecewa, apalagi korban yang lihat langsung. :(

Apa mereka ga bisa bayangin ya gimana rasanya kalau jadi korban? --" That kind of people have no empathy. Miris banget. Semoga kita ga kaya gitu ya.

Sekian keluh kesah untuk hari ini. See you next year :)
Share
Tweet
Pin
Share
1 comments
Tadi setelah sahur, saya membaca sebuah tweet yang isinya minta bantu untuk milih calon istri. Pilihan pertama, calon istrinya taat agama dengan gaji sebagai guru sekitar 2,5 juta. Sedangkan pilihan kedua, agamanya biasa aja bahkan kurang tapi penghasilannya 18 juta/bulan sebagai manajer. Dan seperti yang sudah saya duga, respon dari tweet tersebut banyak banget dan beragam. Ada yang menyarankan memilih opsi satu karena menganggap agama ada hal yang penting dan alasan-alasan lainnya, ada juga yang memilih opsi dua karena mempunyai penghasilan besar dapat menjamin kehidupan dan kebahagiaan dan alasan-alasan lainnya, ada yang pilih dua-duanya (ini yang komen kaum lelaki 😑), ada yang komen 'Ini mas-nya mau numpang hidup dari calon istrinya?', ada yang bilang 'Mending mbak-mbak-nya jangan mau sama mas-nya karena menilai calon istri dari gaji', dan ga sedikit juga yang misuh-misuh sama mas-mas yang ngasih pertanyaan karena menganggap mas-nya berpikiran dangkal dengan hanya mempertimbangkan dua variabel saja, yaitu agama dan gaji, haha.

Jujur, saya merasa terhibur membaca berbagai pemikiran orang-orang tentang pendapat mereka terhadap kasus ini. Isi kepala manusia itu memang unik dan mengesankan. Hehe jadi out of the topic.

Oke, kalo mas yang lagi bingung pilih calon ini nanya ke saya, saya akan jawab 'Pilih yang paling mas-nya butuhkan dan pilih yang risikonya paling bisa mas-nya terima.' Karena setiap kita memilih sesuatu, pasti satu paket dengan konsekuensi yang harus kita terima. Ga boleh nawar-nawar lagi. Ga boleh ada ngeluh-ngeluh belakangan.


Kalo mas-nya butuh calon istri yang taat agama, ya pilih yang nomor satu. Dengan konsekuensi backup pendapatannya kurang, mas-nya harus bisa berusaha lebih keras kalo pingin hidup enak. Sedangkan kalo mas-nya lebih butuh wanita dengan penghasilan besar, ya pilih yang nomor dua. Dengan konsekuensi mas-nya harus ekstra dalam mengajari istrinya ilmu agama, harus siap kalo istrinya ga punya banyak waktu di rumah (ya namanya juga manajer, biasanya 60% waktu lebih banyak dihabiskan untuk perusahaan).

Menurut saya sih informasi dari tweet di atas kurang lengkap. Kita ga tau kecenderungan mas-nya seperti apa, lifestyle-nya gimana. Kita juga ga tau karakter mbak 1 dan mbak 2 itu seperti apa. Jadi dalam memberikan saran juga ya seadanya. Karena kecenderungan, karakter dan kebiasaan sangat mempengaruhi dalam memilih sesuatu. Bagi seorang yang money oriented penghasilan adalah segalanya. Namun tidak untuk orang yang berorientasi pada kehidupan akhirat.

Saya pernah mendengar seorang lelaki yang bilang ke calon istrinya 'Kalo kamu mau hidup enak, ya kerja walopun udah nikah.' Saya juga pernah ketemu dengan lelaki yang memandang sebelah mata perempuan yang ga punya kerjaan tetap. Dan saya juga pernah ketemu lelaki yang sangat sedih waktu cerita kalo istrinya harus bekerja demi membantunya. Jadi kalo menurut saya semua pilihan dan tindakan yang diambil tergantung dari persepsi ideal masing-masing individu.

Nah kalo saya jadi mas yang lagi bingung, saya akan memilih opsi 1. Bagi saya, agama merupakan landasan penting dalam membina rumah tangga. Dengan memiliki pengetahuan yang baik dalam hal agama bisa membuat seseorang tau apa tujuan hidup dan mengerti apa hak dan kewajibannya. Lagian untuk urusan pendapatan yang saya tau itu kewajiban seorang suami. Suami bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Kalopun istri ikut membantu dalam keuangan keluarga, itu hanya sekedarnya, tidak wajib.

Tapi rasanya tidak fair kalo milih calon istri hanya dengan melihat agama dan gaji saja. Banyak variabel penting yang harusnya dipertimbangkan juga. Kesamaan visi misi, tujuan berumahtangganya seperti apa, karakter, tingkat kecocokan, bagaimana satu sama lain bisa saling menghormati dan menghargai, mengetahui dan mengerti peranan masing-masing dalam keluarga. Oia seseorang yang bersedia untuk terus ber-improvement juga bisa menjadi pertimbangan karena dia akan selalu belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Teman saya yang sudah menikah, beberapa hari yang lalu bilang begini ke saya 'Berumahtangga itu ga gampang. Akan banyak sekali hal yang bisa menyebabkan masalah dan stres. Sesempurna dan sekeren apapun calon pasanganmu pasti ada kekurangannya. Yang terpenting adalah bagaimana bisa struggle dalam mempertahankan pernikahan. Agama, karakter yang baik, kedewasaan mental, komunikasi adalah hal-hal yang bisa membuat suatu pernikahan berhasil. Mumpung belum nikah, pelajari semua hal yang bisa bikin kamu lebih dewasa dan bijak, agar saat menikah nanti lebih siap dalam menghadapi permasalahan yang ada.'

Nah begitulah pendapat sotoy saya mengenai kasus mas-nya yang bingung pilih calon istri. Berbeda pendapat dengan saya? Wajar. Semua orang punya pendapat dan pandangan masing-masing, hehe.

Semoga selalu berbahagia, guys :)

Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Seperti yang kita tau, saat ini isu lingkungan hidup menjadi salah satu perhatian warga dunia. Hal ini disebabkan oleh banyaknya kerusakan alam yang terjadi di bumi yang kita tinggali ini.

Tadi pagi aku baca sebuah artikel yang berjudul "Reversing nature loss is everyone's business". Do you agree with that statement? I'm sure all of us agree with that.

Untuk keberlangsungan hidup, kita sebagai manusia tentunya sangat bergantung pada alam. Kita sangat mengandalkan udara yang kita hirup, air yang kita minum dan makanan yang kita makan. Namun sayangnya saat ini terjadi banyak sekali masalah pada lingkungan hidup kita.

Beberapa hari yang lalu aku melihat sebuah video yang memperlihatkan masalah kelangkaan air bersih di salah satu kota di Amerika (aku lupa nama kotanya). Di video tersebut diperlihatkan keruhnya air yang berasal dari air keran (air tanah/ sumur). Warga di kota tersebut mengeluh karena air keran tidak bisa mereka gunakan untuk keperluan sehari-hari, akibatnya mereka harus membeli air bersih. Di video tersebut diperlihatkan juga banyaknya stok galon-galon air di tiap rumah warga, tidak ketinggalan juga keluhan tentang membengkaknya anggaran biaya rumah tangga mereka karena harus membeli air bersih.

Ternyata, di Indonesia pun mengalami krisis air bersih. Salah satu wilayah yang mempunyai masalah kelangkaan air bersih adalah wilayah pesisir Jakarta Utara. Walaupun pada kenyataannya Indonesia mempunyai air yang melimpah, namun air yang melimpah tersebut belum bisa dinikmati oleh warga pesisir secara bebas.

Selain masalah kelangkaan air bersih, kita juga dihadapkan pada masalah kenaikan suhu dunia. Dari artikel yang berjudul "World Temperature Rise Nears Danger Level", aku baru tau kalo sisa batas aman kenaikan suhu di dunia adalah 0,5 ℃. Adanya kenaikan suhu dunia ini melahirkan Perjanjian Paris tentang perubahan iklim, dimana negara-negara yang berpartisipasi di dalamnya berkomitmen untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan menahan peningkatan suhu global.

Masalah polusi udara pun menjadi ancaman bagi warga dunia. Menurut WHO, 92% warga dunia tinggal di tempat-tempat dimana tingkat kualitas udaranya berada di atas batas WHO. Polusi udara banyak terjadi di kota-kota besar yang disebabkan oleh penggunaan bahan bakar fosil. Penggunaan bahan bakar fosil dapat menyebabkan pemanasan global dan dapat menimbulkan bencana seperti naiknya permukaan laut, banjir, badai dan suhu ekstrim. Polusi udara juga menjadi penyebab kematian satu dari sembilan warga dunia.

Keadaan juga diperparah oleh hilangnya keanekaragaman hayati secara perlahan. Kita pasti sering mendengar tentang berkurang atau bahkan musnahnya populasi beberapa jenis hewan dan tumbuhan. Hal tersebut secara pasti akan mengganggu sistem ekologi.

Lalu kalo sudah begini, adakah yang bisa kita lakukan untuk memperbaikinya? Ada dong! Untuk mengurangi polusi dan penggunaan bahan bakar fosil, kita bisa menggunakan renewable energy. Syaratnya para pengambil keputusan di semua level harus bertanggung jawab dan dengan cepat mengarahkan masyarakat untuk beralih ke penggunaan energi yang efisien dan terbarukan, yang diproduksi dengan cara yang berkelanjutan tanpa memberi dampak buruk bagi kesehatan manusia dan keanekaragaman hayati.

Hal lain yang bisa kita lakukan terutama di daerah perkotaan adalah dengan cara mengurangi penggunaan kendaraan bermotor yang menghasilkan polusi udara. Kita bisa menyiasatinya dengan cara menggunakan transportasi umum, sepeda atau berjalan kaki. Bisa lebih sehat juga kan? Hehehe.

By the way, judul postinganku kali ini sebenernya judul lagunya Homogenic. Nah penggalan lirik lagunya bisa dijadiin kata-kata penutup deh, haha. "Stop make me dying fast. I still want to living life. To see the sun, see the moon, breath the air. Please care for the green trees. And all the life inside it. Then I'll treat you. I'll give you better life."

So guys, let's save our earth!
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Beropini boleh kan? Boleh dong. Jadi gini, beberapa hari yang lalu di dunia maya lagi heboh banget karena ada case yang dialami oleh salah satu influencer Indonesia. Kebetulan aku adalah salah satu followers-nya di instagram. Kenapa aku nge-follow dia? Karena dia itu keren banget menurutku. Cerdas, wawasannya luas, kritis, pokoknya inspiring person banget deh.

Nah beberapa hari yang lalu dia mendapatkan sexual harassment secara verbal di DM instagram. Kemudian dia bikin instastory yang nunjukin isi DM-nya plus poto pengirim DM itu, dan ternyata itu fake account yang pake poto orang. Setelah tau kalo itu fake account, dia langsung konfirmasi di instastory-nya.

Si pemilik poto yang asli kemudian menghubungi si influencer ini untuk take down his photo dari instastory karena dia mendapatkan banyak komen negatif dari orang-orang yang ngira kalo dia adalah orang yang nge-DM si influencer itu. Karena merasa gak ditanggapi oleh si influencer, si pemilik poto ini membuat instastory dengan permintaan yang sama, namun si influencer ini merasa kata-kata si pemilik poto itu memojokkan dia. Lalu terjadilah ribut-ribut di DM mereka. Si influencer ini mungkin karena lagi emosi jadinya speak harmful gitu ke si pemilik poto. Kata-katanya lumayan kasar lah ya.

Kalo baca isi DM-nya sih kayanya masalahnya bisa diselesaikan tanpa harus ribut-ribut. Menurutku sih si pemilik poto ini cuma pingin si influencer meminta maaf dengan benar dan tulus, bukannya terus menerus mengklarifikasi dan sampai mengeluarkan kata-kata yang kasar.

Pelajaran yang bisa diambil dari kasus ini sih menurutku belajar untuk mengontrol emosi. Kita memang gak bisa menghindari apapun yang bisa bikin kita emosi tapi paling tidak kita bisa berusaha untuk mengendalikan reaksi kita saat emosi.

Selain itu kita juga harus belajar untuk mendengarkan orang lain. Bukan hanya mendengarkan untuk memberi respond tapi juga mendengarkan untuk memahami apa yang orang lain katakan dan butuhkan. Tuhan ngasih kita dua telinga dan satu mulut mungkin dengan maksud agar kita lebih sering mendengarkan daripada berbicara.

Kita juga jangan gengsi untuk meminta maaf dan merasa berat hati untuk memberi maaf. A little apology won't hurt, right? Ada video seorang dokter yang aku tonton di Facebook bilang gini, "Saya ndak pernah gengsi untuk meminta maaf, karena makin tua makin banyak dosa, bukan makin bener, makanya makin tua harus makin wise."

Nah, marilah belajar untuk lebih bisa mendengarkan orang lain dan tidak gengsi untuk meminta dan memberi maaf for living life in peace.

Oia, ini agak out of the topic sih, buat yang berwajah manis, manja dan ngegemesin baiknya lebih berhati-hati dalam nge-share poto biar gak disalahgunakan sama orang-orang yang gak bertanggungjawab.

Ehm... it's just my opinion ya, guys. Maaf-maaf kalo ada yang gak sependapat ato merasa tersinggung dengan kata-kataku. Keep love, peace and gawls 😎

Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Oke di postingan kali ini aku akan sharing tentang pengalamanku mempunyai akun online dating. Walaupun pada kenyataannya online dating sudah berkembang dari beberapa tahun yang lalu, ga sedikit orang-orang yang masih skeptis dengan keberadaannya. Banyak orang yang menganggap bahwa orang-orang yang ada di dalamnya itu adalah orang-orang yang desperate. Haha bisa jadi sih, eh tapi engga deng. Dan seperti yang banyak diberitakan kalo orang-orang di online dating itu pembohong, penipu dan bahkan scammer. Tapi sebenarnya online dating ga se-creepy itu ko. Kitanya aja harus pinter-pinter dalam memilah dan memilih orang. Kenapa aku bisa bilang gitu? Karena ada dua orang temanku yang menikah dan sampai sekarang kehidupannya harmonis dari hasil berkenalan secara online. Ada juga temanku yang walopun ga menjalin romantic relationship tapi jadi temen yang asik.

Awalnya aku memang ga ada niatan untuk ikutan online dating sih tapi temenku ngasih saran untuk join, katanya biar aku ga terlalu kaku ngobrol sama lawan jenis. Haha. Nah akhirnya aku ikutin deh saran temenku itu. Ga cuma satu akun, aku langsung bikin dua. Hahaha. Jadi temenku yang A nyuruh bikin akun di muslima.com dan yang B nyaranin bikin akun di indonesiancupid.com, yo wis lah ya aku turutin saran dua-duanya. Aku sih ga berekspektasi lebih ya pas bikin akun ini, ya itung-itung nambah temen baru aja.

Pas bikin akunnya aku sih curiga ya antara muslima.com dan indonesiancupid.com ini web designernya sama, soalnya tampilannya sama persis, beda di warna sama logonya doang. Haha.

Jadi pas bikin akun, kita harus ngisi beberapa data, seperti data pribadi, preferensi terhadap pasangan, kayak agamanya apa, tinggalnya dimana, rentang umurnya berapa, jenjang pendidikannya gimana, faktor kebiasaan (merokok ato engga), dll. Setelah data diisi, submit, then kita udah bisa langsung pake deh.

Oia kita juga diperkenankan untuk pasang poto. Tapi awal-awal sih aku engga. Soalnya satu-satunya poto yang ada di galeri hapeku ditolak pihak online dating karena potonya ga menunjukkan mukaku dengan jelas. Di potonya memang mukaku setengahnya ketutupan bunga sih, haha.

Karena temenku yang nyuruh bikin akun itu bawelnya luar biasa, pas tau aku belum pasang poto, dia ngomel-ngomel "Yaelah gimana mau ada yang nyamperin kalo ga pasang poto. Aturan tuh pasang potonya yang cantik dan menarik." Denger gitu sih aku langsung jiper ya, apalah aku yang cuma remah-remah biskuit Milna. Akhirnya aku pasang poto yang seadanya.

Oia di akun muslima.com itu rata-rata orang luar negeri, jadi lumayan lah sekalian belajar bahasa Inggris, hehe. Kalo indonesiancupid.com sih orang Indonesia. As I said before, kita harus pinter milih orang karena memang ga semuanya jujur dan baik. So far so good sih. Aku jadi user online dating selama kurang lebih dua minggu. Saat mau delete account kita harus ngisi alasan kenapa kita mau nutup akunnya.

Beberapa minggu setelah delete account, aku bikin akun baru di setipe.com, ini atas saran temen juga. Kalo yang ini sih data yang harus kita isi pas bikin akun lebih banyak ya. Malah ada kayak psikotes gitu untuk nentuin personality kita, jadi ntar di-match sama orang yang kurang lebih personalitynya mirip dengan kita. Dan aku jadi usernya cuma selama tiga hari. Hehe. Dari ketiga online dating itu aku cuma ngasih kontak pribadi ke satu orang temen aja, yang lainnya sih sebatas chatting di aplikasi online datingnya aja.

Menurut pengalamanku, you dont have too much worry ya sama online dating. Ga semua orang di dalemnya kacau ko. Asal kita bisa milih aja, dan kita bisa memfilter informasi apa aja yang mau kita kasih ke orang. Kalo hati-hati sih harus banget.

Kalo masih ada yang skeptis dengan online dating, gini deh, memangnya ada jaminan kalo ketemu secara offline bakalan mulus-mulus aja? Ga akan nemuin tukang bohong dan tukang tipu? I dont think so. Ayu ting ting aja kebingungan gegara nyari alamat palsu. Iya kan? Intinya sih mau online ato offline, kita harus tetep hati-hati aja, jangan gampang percaya. Dan jangan lupa minta sama Allah untuk dijauhkan dari keburukan 😁

Kita harus open minded kali ya. Online dating ada pasti karena ada demand-nya kan. Bisa bantu orang-orang yang kesulitan cari pasangan secara konvensional karena kesibukan mungkin. Ini juga salah satu bentuk ikhtiar kan.

Yeah its just my opinion yaa...

Share
Tweet
Pin
Share
4 comments
Beberapa hari yang lalu setelah sahur, temanku nge-chat begini:

She : Bo, kamu INFJ kan?
Me : Nope
She : Ini ada artikel katanya INFJ itu populasi paling sedikit di dunia. Cuma 1%. Kirain kamu INFJ.
Me : Judgement-ku rendah banget. Aku sih INFP.
She : Ooh. Terus kalo aku apaan?
Me : 😔

Well, gak tau kenapa aku tertarik sekali sama yang namanya personality manusia. Kayaknya bakalan seru dan berguna banget kalo bisa tau kepribadian seseorang. Kita jadi bisa tau cara men-treat orang sesuai dengan personality-nya. Zaman sekarang orang-orang banyak banget kan ya yang berantem cuma gara-gara salah paham, nah dengan mengetahui kepribadian orang lain, kita bisa meminimalisir timbulnya konflik dan kesalah pahaman.

Udah pada tau dong dengan MBTI (Myers-Birggs Type Indicator)? Yup, psikotes yang dirancang untuk mengukur preferensi seseorang dalam melihat dunia dan membuat keputusan. Untuk saat ini, tes MBTI termasuk salah satu psikotes yang sering digunakan di dunia.

Oia salah satu temanku pernah bilang, "Manusia itu makhluk yang dinamis, jadi kepribadian seseorang bisa berubah." Oke, memang benar kalo manusia itu makhluk yang dinamis. Tapi menurutku perubahan tersebut terjadi karena adanya pengaruh lingkungan, kondisi bahkan tekanan yang dialami orang itu, simple-nya sih 'hanya menyesuaikan dengan keadaan'. Sedangkan sifat dasarnya tidak akan berubah. Sifat dasar ini dapat diketahui dengan cara melihat kecenderungan kita yang sesungguhnya, tanpa adanya tekanan dan pengaruh lingkungan. 

Oke, balik lagi ke MBTI. Menurut tes MBTI, aku termasuk orang dengan tipe INFP. Sebenernya aku sebel banget dengan tipe ini karena kesannya tuh lemah banget --". INFP - Introvert, Intuition, Feeling, Perceiving. Sebutan lain untuk manusia-manusia yang bertipe INFP ini antara lain, The Idealist (I'm not sure about this. Beberapa temen deket sih bilang gitu, tapi aku gak ngerasa, tapi kadang ngerasa juga sih. Eaaa labil 😝), Healer (Duuh nge-healing diri sendiri aja masih terseok-seok, haha), Dreamer (Iya banget! But as Lennon said 'You may say I'm a dreamer, but I'm not the only one' *jadi nyanyi, hihi).

Sebagai seorang INFP, aku sering dianggap sebagai orang yang pendiam, tidak ramah dan pemalu. Dalam berkomunikasi, aku cenderung berbicara dengan pelan dan merespon orang dengan lambat. Aku lebih suka mendengarkan daripada berbicara. Mungkin karena hal ini lah beberapa teman mempercayaiku sebagai tempat curhat mereka. Kalo kata temenku sih aku ini kayak tempat sampah, karena jadi tempat membuang dan menimbun masalah mereka. Haha

Komponen-komponen INFP juga membuatku menjadi orang yang peduli dengan orang lain. Peduli loh ya, bukan kepo 😝. Aku berusaha untuk memahami perasaan orang lain dan berempati atas apa yang orang lain alami. Aku juga bisa merasakan saat orang lain benar-benar menerimaku atau tidak.

Aku lebih suka menghabiskan waktu sendiri or with a few trusted friends. Aku menikmati saat tenggelam dalam buku, puisi, lirik atau perjalanan yang bisa memberiku asupan emosi yang kubutuhkan. Aku lebih menyukai kehidupan sederhana yang bermakna. Karena hal ini aku sering dibilang naif dan tidak realistis. Aku tidak tertarik untuk mendominasi orang lain. Aku sangat mendambakan kehidupan yang harmonis. Aku paling bete kalo liat ada orang yang semena-mena dan picik ke orang lain.

Aku adalah orang yang tidak mudah menceritakan masalah ke orang lain. Kalopun sampai cerita, aku akan memilih-milih hal yang menurutku wajar untuk diceritakan. Jadi ceritanya per-part. Makanya temen-temenku suka sebel karena kentang 'kena tanggung' kalo denger aku cerita. Kadang orang lain juga merasa difficult to know me. Di awal, untuk orang yang baru kenal sih mungkin aku sedikit tertutup, tapi kalo aku udah merasa klik, aku bisa bersikap lebih hangat dan terbuka. Malah aku bisa sangat perhatian.

Dipengaruhi oleh IF (Introvert, Feeling), saat mengambil keputusan, aku cenderung tidak menggunakan penalaran logis. Aku membuat keputusan hanya karena merasakan hal tertentu. Merasa bahwa keputusan tersebut terbaik buatku dan orang lain (jika keputusannya berhubungan dengan orang lain). Makanya kalo ada yang tanya apa alasanku dalam mengambil sebuah keputusan, aku ga bisa jawab dengan detail. Hehe

Ada sebuah artikel yang aku baca tentang random facts about INFP, katanya sih INFP itu great at reading people. Aku jadi ingat temenku yang suka minta aku untuk 'reading' karakter seseorang dari poto. 😆 Selain itu katanya INFP overly shy, self-blame, sangat peduli pada harga diri orang lain dan tau cara bagaimana menghargai orang lain. Karir yang cocok untuk INFP menurut artikel tersebut adalah penulis, pengajar, musisi, psikolog dan dokter jiwa.

Nah, kalo karakter MBTI kamu apa?



Share
Tweet
Pin
Share
3 comments
Older Posts

Slice of Lyfe

Labels

  • PERSONAL THOUGHT
  • POEM
  • REVIEW
  • TRIP

Popular Posts

  • Menjadi Seorang INFP
  • Pengalaman Mempunyai Akun Online Dating
  • Kursus Online di Udemy
  • MENIKAH.
  • Menikmati Kopi di Tuang Cafe

Blog Archive

  • ▼  2019 (1)
    • ▼  February 2019 (1)
      • Firefly Coffee Shop, Menawarkan Kopi Khas Papua
  • ►  2018 (32)
    • ►  December 2018 (1)
    • ►  September 2018 (1)
    • ►  August 2018 (2)
    • ►  July 2018 (5)
    • ►  June 2018 (7)
    • ►  May 2018 (5)
    • ►  April 2018 (3)
    • ►  March 2018 (3)
    • ►  February 2018 (1)
    • ►  January 2018 (4)
  • ►  2017 (11)
    • ►  December 2017 (11)
Blogger Perempuan

Created with by ThemeXpose