• Home
  • Hi!
  • Thought
  • Review
  • Trip
instagram

The Random Journal

Tadi setelah sahur, saya membaca sebuah tweet yang isinya minta bantu untuk milih calon istri. Pilihan pertama, calon istrinya taat agama dengan gaji sebagai guru sekitar 2,5 juta. Sedangkan pilihan kedua, agamanya biasa aja bahkan kurang tapi penghasilannya 18 juta/bulan sebagai manajer. Dan seperti yang sudah saya duga, respon dari tweet tersebut banyak banget dan beragam. Ada yang menyarankan memilih opsi satu karena menganggap agama ada hal yang penting dan alasan-alasan lainnya, ada juga yang memilih opsi dua karena mempunyai penghasilan besar dapat menjamin kehidupan dan kebahagiaan dan alasan-alasan lainnya, ada yang pilih dua-duanya (ini yang komen kaum lelaki 😑), ada yang komen 'Ini mas-nya mau numpang hidup dari calon istrinya?', ada yang bilang 'Mending mbak-mbak-nya jangan mau sama mas-nya karena menilai calon istri dari gaji', dan ga sedikit juga yang misuh-misuh sama mas-mas yang ngasih pertanyaan karena menganggap mas-nya berpikiran dangkal dengan hanya mempertimbangkan dua variabel saja, yaitu agama dan gaji, haha.

Jujur, saya merasa terhibur membaca berbagai pemikiran orang-orang tentang pendapat mereka terhadap kasus ini. Isi kepala manusia itu memang unik dan mengesankan. Hehe jadi out of the topic.

Oke, kalo mas yang lagi bingung pilih calon ini nanya ke saya, saya akan jawab 'Pilih yang paling mas-nya butuhkan dan pilih yang risikonya paling bisa mas-nya terima.' Karena setiap kita memilih sesuatu, pasti satu paket dengan konsekuensi yang harus kita terima. Ga boleh nawar-nawar lagi. Ga boleh ada ngeluh-ngeluh belakangan.


Kalo mas-nya butuh calon istri yang taat agama, ya pilih yang nomor satu. Dengan konsekuensi backup pendapatannya kurang, mas-nya harus bisa berusaha lebih keras kalo pingin hidup enak. Sedangkan kalo mas-nya lebih butuh wanita dengan penghasilan besar, ya pilih yang nomor dua. Dengan konsekuensi mas-nya harus ekstra dalam mengajari istrinya ilmu agama, harus siap kalo istrinya ga punya banyak waktu di rumah (ya namanya juga manajer, biasanya 60% waktu lebih banyak dihabiskan untuk perusahaan).

Menurut saya sih informasi dari tweet di atas kurang lengkap. Kita ga tau kecenderungan mas-nya seperti apa, lifestyle-nya gimana. Kita juga ga tau karakter mbak 1 dan mbak 2 itu seperti apa. Jadi dalam memberikan saran juga ya seadanya. Karena kecenderungan, karakter dan kebiasaan sangat mempengaruhi dalam memilih sesuatu. Bagi seorang yang money oriented penghasilan adalah segalanya. Namun tidak untuk orang yang berorientasi pada kehidupan akhirat.

Saya pernah mendengar seorang lelaki yang bilang ke calon istrinya 'Kalo kamu mau hidup enak, ya kerja walopun udah nikah.' Saya juga pernah ketemu dengan lelaki yang memandang sebelah mata perempuan yang ga punya kerjaan tetap. Dan saya juga pernah ketemu lelaki yang sangat sedih waktu cerita kalo istrinya harus bekerja demi membantunya. Jadi kalo menurut saya semua pilihan dan tindakan yang diambil tergantung dari persepsi ideal masing-masing individu.

Nah kalo saya jadi mas yang lagi bingung, saya akan memilih opsi 1. Bagi saya, agama merupakan landasan penting dalam membina rumah tangga. Dengan memiliki pengetahuan yang baik dalam hal agama bisa membuat seseorang tau apa tujuan hidup dan mengerti apa hak dan kewajibannya. Lagian untuk urusan pendapatan yang saya tau itu kewajiban seorang suami. Suami bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Kalopun istri ikut membantu dalam keuangan keluarga, itu hanya sekedarnya, tidak wajib.

Tapi rasanya tidak fair kalo milih calon istri hanya dengan melihat agama dan gaji saja. Banyak variabel penting yang harusnya dipertimbangkan juga. Kesamaan visi misi, tujuan berumahtangganya seperti apa, karakter, tingkat kecocokan, bagaimana satu sama lain bisa saling menghormati dan menghargai, mengetahui dan mengerti peranan masing-masing dalam keluarga. Oia seseorang yang bersedia untuk terus ber-improvement juga bisa menjadi pertimbangan karena dia akan selalu belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Teman saya yang sudah menikah, beberapa hari yang lalu bilang begini ke saya 'Berumahtangga itu ga gampang. Akan banyak sekali hal yang bisa menyebabkan masalah dan stres. Sesempurna dan sekeren apapun calon pasanganmu pasti ada kekurangannya. Yang terpenting adalah bagaimana bisa struggle dalam mempertahankan pernikahan. Agama, karakter yang baik, kedewasaan mental, komunikasi adalah hal-hal yang bisa membuat suatu pernikahan berhasil. Mumpung belum nikah, pelajari semua hal yang bisa bikin kamu lebih dewasa dan bijak, agar saat menikah nanti lebih siap dalam menghadapi permasalahan yang ada.'

Nah begitulah pendapat sotoy saya mengenai kasus mas-nya yang bingung pilih calon istri. Berbeda pendapat dengan saya? Wajar. Semua orang punya pendapat dan pandangan masing-masing, hehe.

Semoga selalu berbahagia, guys :)

Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Seperti yang kita tau, saat ini isu lingkungan hidup menjadi salah satu perhatian warga dunia. Hal ini disebabkan oleh banyaknya kerusakan alam yang terjadi di bumi yang kita tinggali ini.

Tadi pagi aku baca sebuah artikel yang berjudul "Reversing nature loss is everyone's business". Do you agree with that statement? I'm sure all of us agree with that.

Untuk keberlangsungan hidup, kita sebagai manusia tentunya sangat bergantung pada alam. Kita sangat mengandalkan udara yang kita hirup, air yang kita minum dan makanan yang kita makan. Namun sayangnya saat ini terjadi banyak sekali masalah pada lingkungan hidup kita.

Beberapa hari yang lalu aku melihat sebuah video yang memperlihatkan masalah kelangkaan air bersih di salah satu kota di Amerika (aku lupa nama kotanya). Di video tersebut diperlihatkan keruhnya air yang berasal dari air keran (air tanah/ sumur). Warga di kota tersebut mengeluh karena air keran tidak bisa mereka gunakan untuk keperluan sehari-hari, akibatnya mereka harus membeli air bersih. Di video tersebut diperlihatkan juga banyaknya stok galon-galon air di tiap rumah warga, tidak ketinggalan juga keluhan tentang membengkaknya anggaran biaya rumah tangga mereka karena harus membeli air bersih.

Ternyata, di Indonesia pun mengalami krisis air bersih. Salah satu wilayah yang mempunyai masalah kelangkaan air bersih adalah wilayah pesisir Jakarta Utara. Walaupun pada kenyataannya Indonesia mempunyai air yang melimpah, namun air yang melimpah tersebut belum bisa dinikmati oleh warga pesisir secara bebas.

Selain masalah kelangkaan air bersih, kita juga dihadapkan pada masalah kenaikan suhu dunia. Dari artikel yang berjudul "World Temperature Rise Nears Danger Level", aku baru tau kalo sisa batas aman kenaikan suhu di dunia adalah 0,5 ℃. Adanya kenaikan suhu dunia ini melahirkan Perjanjian Paris tentang perubahan iklim, dimana negara-negara yang berpartisipasi di dalamnya berkomitmen untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan menahan peningkatan suhu global.

Masalah polusi udara pun menjadi ancaman bagi warga dunia. Menurut WHO, 92% warga dunia tinggal di tempat-tempat dimana tingkat kualitas udaranya berada di atas batas WHO. Polusi udara banyak terjadi di kota-kota besar yang disebabkan oleh penggunaan bahan bakar fosil. Penggunaan bahan bakar fosil dapat menyebabkan pemanasan global dan dapat menimbulkan bencana seperti naiknya permukaan laut, banjir, badai dan suhu ekstrim. Polusi udara juga menjadi penyebab kematian satu dari sembilan warga dunia.

Keadaan juga diperparah oleh hilangnya keanekaragaman hayati secara perlahan. Kita pasti sering mendengar tentang berkurang atau bahkan musnahnya populasi beberapa jenis hewan dan tumbuhan. Hal tersebut secara pasti akan mengganggu sistem ekologi.

Lalu kalo sudah begini, adakah yang bisa kita lakukan untuk memperbaikinya? Ada dong! Untuk mengurangi polusi dan penggunaan bahan bakar fosil, kita bisa menggunakan renewable energy. Syaratnya para pengambil keputusan di semua level harus bertanggung jawab dan dengan cepat mengarahkan masyarakat untuk beralih ke penggunaan energi yang efisien dan terbarukan, yang diproduksi dengan cara yang berkelanjutan tanpa memberi dampak buruk bagi kesehatan manusia dan keanekaragaman hayati.

Hal lain yang bisa kita lakukan terutama di daerah perkotaan adalah dengan cara mengurangi penggunaan kendaraan bermotor yang menghasilkan polusi udara. Kita bisa menyiasatinya dengan cara menggunakan transportasi umum, sepeda atau berjalan kaki. Bisa lebih sehat juga kan? Hehehe.

By the way, judul postinganku kali ini sebenernya judul lagunya Homogenic. Nah penggalan lirik lagunya bisa dijadiin kata-kata penutup deh, haha. "Stop make me dying fast. I still want to living life. To see the sun, see the moon, breath the air. Please care for the green trees. And all the life inside it. Then I'll treat you. I'll give you better life."

So guys, let's save our earth!
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Sejak booming-nya K-Pop dan K-Drama, resto makanan Korea menjamur di berbagai kota. Salah satu resto yang terkenal dalam menyuguhkan makanan khas Korea adalah Mujigae. Mujigae mempunyai cabang di beberapa kota. Resto kekinian ini berdesain interior mewah. Kita bisa langsung merasakan atmosfer Korea begitu masuk ke dalamnya.

Oia, Mujigae merupakan salah satu resto yang memanfaatkan teknologi loh. Di setiap meja pengunjung, terdapat sebuah tab yang digunakan untuk memanggil pelayan dan memesan makanan. Selain untuk memanggil pelayan, tab tersebut juga bisa kita gunakan untuk bermain games dan ber-selfie ria.

tab
Sebenarnya ini adalah kunjungan ku yang ketiga ke Mujigae. Kunjungan pertama di Mujigae Botani Square Bogor. Waktu itu sekalian ketemuan sama teman-teman sebimbingan pas kuliah. Disana aku memesan classic topokki dan green tea sea salt. Topokki adalah kue beras yang bentuknya lonjong dan panjang dan teksturnya kenyal. Topokki tersebut disiram saus merah yang pedas dan panas. Menurutku sih rasanya biasa aja ya. Kalo green tea sea salt-nya unik dan enak rasanya. Cara penyajiannya juga unik. Jadi green tea sea salt ini disajikan di gelas yang gede, yang di dalemnya ada es serut, sea salt cream, dan botol yang berisi green tea. Cara minumnya, kita harus nuangin green tea ke gelas terus diaduk deh biar nyampur sama es serut dan sea salt cream-nya.

Nah kalo kunjungan kedua sih di Mujigae Cihampelas Walk (Ciwalk) Bandung. Waktu itu ketemuan sama temen SMA. Aku sih cuma order patbingsu alias es kacang merah yang udah dimodif biar cocok sama lidah Indonesia. Hehe. Jadi di patbingsu ini isinya ada green tea ice cream, jelly, mochi, susu kental manis dan yang pastinya kacang merah. Rasanya? Enak! Recommended deh pokoknya.

Kalo yang ketiga, aku emang sengaja ke Mujigae bareng adek karena pingin makan mie. Kita makan di Mujigae Istana Plaza Bandung. Both of us pesen ramyun. Rasa ramyunnya sih biasa aja ya. Minumnya adekku order banana milk matcha puding, kalo aku pesen matcha milk tea. Matcha milk tea-nya enak sih lumayan tapi lebih enak banana milk matcha puding-nya.






Ramyun
Banana Milk Matcha Puding
Pas kita makan kebetulan disana lagi nayangin drakor While You Were Sleeping, jadi berasa makan bareng Lee Jong Suk deh (gak juga sih, haha).

Jadi menurutku sih kalo soal tempat cozy banget ya, pelayanannya juga oke, minumannya enak-enak, cuma makanannya aja sih yang biasa aja. Ya overall bagus lah yaa. Re-visit? Maybe...



Share
Tweet
Pin
Share
2 comments
Newer Posts
Older Posts

Slice of Lyfe

Labels

  • PERSONAL THOUGHT
  • POEM
  • REVIEW
  • TRIP

Popular Posts

  • Menjadi Seorang INFP
  • Pengalaman Mempunyai Akun Online Dating
  • Kursus Online di Udemy
  • MENIKAH.
  • Menikmati Kopi di Tuang Cafe

Blog Archive

  • ▼  2019 (1)
    • ▼  February 2019 (1)
      • Firefly Coffee Shop, Menawarkan Kopi Khas Papua
  • ►  2018 (32)
    • ►  December 2018 (1)
    • ►  September 2018 (1)
    • ►  August 2018 (2)
    • ►  July 2018 (5)
    • ►  June 2018 (7)
    • ►  May 2018 (5)
    • ►  April 2018 (3)
    • ►  March 2018 (3)
    • ►  February 2018 (1)
    • ►  January 2018 (4)
  • ►  2017 (11)
    • ►  December 2017 (11)
Blogger Perempuan

Created with by ThemeXpose