• Home
  • Hi!
  • Thought
  • Review
  • Trip
instagram

The Random Journal

Siang-siang gini tiba-tiba pingin menuliskan apa yang lagi ada di pikiran. Hal yang receh banget sih sebenarnya. Tapi lumayan lah untuk mengurangi utang postingan. Hehe

Jadi kemarin malem pas scrolling timeline twitter, aku baca reply tweet dari orang yang aku follow. Dia menanggapi tweet-an salah satu followingnya yang bilang 'Gini nih nasib anak kost, harus cari makan sahur sendiri.' dengan 'Nikmati saja, Dek. Suatu hari nanti kamu bakalan kangen masa-masa itu.' Setelah baca tweet itu, aku langsung ngerasa kangen masa-masa saat jauh dari rumah. Ketika harus menyiapkan semuanya sendiri.

Dan tiba-tiba *jeng jeng* *efek lebay*, aku diharuskan untuk keluar kota, gak jauh sih, deket banget malah, ke Padalarang doang, dan cuma dua hari. Hehe. Tapi cukup bikin aku senang. Sampai aku mikir, 'Ini Allah denger batinku kali ya, baru aja aku ngerasa kangen masa-masa ngekost eh tiba-tiba harus keluar kota. Allah pingin aku ngerasain sensasi jauh dari rumah lagi kayanya.' See? Allah Maha Baik banget yaa.

Nah setelah cari-cari homestay, besoknya aku berangkat lah ke Padalarang. Receh banget ya ke Padalarang doang girang. Haha. Tapi emang bahagia itu sederhana loh. Lagian biasanya kalo ke Padalarang lewat doang dan buta arah untuk Bandung bagian barat. Jadi aku anggap ini hal baru buatku.

Aku berangkat ke terminal dan langsung naik elf Subang - Bandung (yang Mamang supirnya  kalo nyetir kaya orang kebelet pipis, kenceng banget. Tapi gak lebih kenceng dari Mamang elf Bogor-Sukabumi sih). Sambil nunggu elfnya penuh, aku merhatiin bus Subang - Kp. Rambutan. Dulu sering banget naik bus itu kalo ke Bogor atau Bintaro.

Emang dasar lagi lebay kali ya, adegan-adegan flashback langsung bermunculan satu per satu. Di awali momen dimana dianter keluarga ke Bogor, tinggal di asrama putri yang sekamarnya diisi oleh empat orang yang asalnya beda-beda, kenalan sama orang-orang yang asalnya dari Sabang sampai Merauke (udah kaya lagu ya 😄), nangis berjamaah sekamar pas sahur pertama (sumpah, ini lebay banget, haha), KTM ditahan gegara pulang lebih dari jam malem pas tahun baru, makan lorong, ngaji lorong, sekamar kompak pura-pura gak ada di kamar biar ga usah ikut apel pagi, tidur dempet-dempetan kalo abis denger cerita horror di asrama, rebutan naik bus kampus kalo kebagian kelas yang jauh dan ramean cuci mata di Bara (anak asrama mah ngegaulnya cukup di Bara 😝). Ah aku rindu...

Tahun kedua sampai keempat jadi anak kost. Sekosan sama orang-orang dari berbagai angkatan dan jurusan yang beda-beda. Ngangkot ramean kalo mau ngampus, titip-titipan beli makan, masak-masakan bareng, nonton bareng, curhat-curhatan, kerok-kerokan (anaknya pada sering masuk angin 😆), ke kota bareng (Dramaga mah kampung, huhu), saling bantu, saling support. Aaah rindu...

Kemudian ingat masa-masa kerja di Bintaro. Berangkat pagi, macet-macetan, pulang pas matahari udah gak keliatan. Pernah gak pulang sampai empat bulan, sampai-sampai Papa ngechat "Mbak, lupa jalan pulang, Nduk? Ko gak pulang-pulang" 😆 (fyi, Papa tuh kadang lebih lebay dari Mama). Pas kerja di Bandung sih hampir tiap minggu pulang ya, soalnya deket. Tapi tetep aja ga di rumah. Bermain sambil belajar selama satu bulan di Kediri juga tiba-tiba muncul di ingatan. Seru. Rindu...

Momen yang bikin sedih pas tinggal jauh dari rumah adalah saat homesick melanda, saat sakit, atau tau orang rumah ada yang sakit, dan saat kangen masakan Mama. Lagu Home-nya Michael Buble dan Pulang-nya Andien udah jadi lagu wajib dan didengerin berulang-ulang. Rajin ngitungin tanggal di kalender biar tau berapa hari lagi bisa pulang. Aah rindu...

Dari semua hal itu, yang paling bikin bahagia adalah bisa punya banyak teman baru. Beberapa jadi sahabat bahkan seperti keluarga. Merasa beruntung karena dikelilingi orang-orang baik. Cause just being around good people makes life so good. 

Kadang ngiri sih sama orang-orang yang pernah dan sedang tinggal jauh dari rumahnya. Karena mereka sebenarnya sedang menerima pengalaman yang baru. Aah, semoga suatu hari nanti aku dapat rezeki untuk kerja atau sekolah di tempat yang jauh dari rumah. Aamiin. (Aamiin-in ya temen-temen 😁). Ya sekian curhatan kali ini, (berasa penting banget ya, hehe). See you next time, good people 💛
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Ternyata ungkapan bahwa "cara pandang seseorang terhadap sesuatu berubah seiring pengalaman" itu benar loh. Dulu, aku termasuk orang yang berpegang pada quote "My attitude is based on how you treat me". Jadi, aku memperlakukan orang lain sesuai dengan perlakuan orang itu ke aku. Kalo mereka baik, aku bakalan baik juga ke mereka, pun sebaliknya.

Masalah terjadi ketika aku sudah memperlakukan orang lain dengan baik namun orang tersebut tidak memperlakukanku dengan baik. Ada rasa kesal, kecewa dan marah. Mungkin kalo berani bilang ke orang itu, aku bakalan bilang, "Eh kalo udah dibaikin sama orang tuh harusnya baik juga dong" gitu kali ya. Tapi sayangnya aku gak berani, hehe. Dan populasi orang yang seperti itu (dibaikin tapi gak ngebaikin balik) banyak banget di dunia ini. Kebayang dong udah berapa juta kali aku misuh-misuh gegara hal ini. Bikin pegel hati. Lagian emang salahku juga sih, dengan sikapku yang seperti itu secara gak langsung aku sudah mempersilahkan orang lain untuk memberikan kendali terhadap sikapku (baru sadar beberapa tahun yang lalu --").

Nah, sekitar beberapa tahun ke belakang, saat usiaku semakin banyak, aku sadar kalo sikapku itu gak tepat. Semenjak itu, aku belajar gimana caranya untuk merubah apa yang aku anggap benar sebelumnya dengan apa yang aku anggap benar saat ini. Gak gampang memang, tapi perlu dibiasakan karena aku harus bisa memegang kontrol atas apa yang aku lakukan. Jadi mulai saat itu aku belajar dan berusaha untuk memperlakukan orang lain dengan baik bagaimana pun perlakuan orang itu ke aku. Ya syukur-syukur kalo orang itu memperlakukanku dengan baik juga, kalopun tidak, aku berusaha untuk tidak membalasnya seperti sikapku yang dulu. Aku akan tetap memberi perlakuan yang baik. Karena kita gak bisa meminta dan menuntut orang lain untuk berbuat/ bersikap seperti yang kita inginkan.

Jadi, marilah kita belajar untuk tetap memberi sikap dan perlakuan yang baik kepada orang lain tanpa harus meminta dan menuntut orang tersebut untuk berbuat baik pada kita. Karena saat kita berbuat baik kepada orang lain, sesungguhnya kita sedang berbuat baik pada diri sendiri. Ada sebuah kalimat yang mungkin bisa menjadi motivasi kita untuk tetap berbuat baik bagaimana pun respon orang lain terhadap kita, yaitu "Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula)".

Well, let's spread the good vibe, good people ❤
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Pagi ini saat menyadari bahwa kita (umat muslim) sedang berada tepat di depan pintu Ramadhan, tiba-tiba aku terpikir bagaimana jika Ramadhan ini adalah yang terakhir bagiku. Atau malah mungkin Ramadhan kali ini pun tidak akan aku lewati karena telah dijemput kematian. Karena sejatinya kita tidak pernah mengetahui apa yang akan terjadi pada diri kita bahkan di satu detik kemudian setelah detik ini berlalu.

Aku memeriksa diri dan menelisik semuanya, betapa diri ini jauh dari kata taat. Banyak hal yang aku lalaikan secara hati kepadaNya. Banyak khilaf dan dosa yang telah kuperbuat. Seringkali diri ini terlalu disibukkan dengan urusan dunia. Seringkali pula diri ini tidak mensyukuri nikmatNya. Padahal aku sangat menyadari apalah arti diri ini tanpa cintaNya.

Jika ini Ramadhan terakhirku, tentu aku tak akan berhenti memohon ampun atas semua khilaf dan dosaku. Aku akan berusaha mengisi sisa waktu dengan hal yang diridhaiNya. Berusaha menunaikan segala tanggungan di dunia, baik itu janji-janji atau pun kewajiban-kewajiban yang belum terselesaikan. Aku pun ingin memperbaiki hatiku karena hati merupakan kunci pada diri. Jika hatinya baik, maka akan baik pula segala tingkah dan laku, pun sebaliknya.

Jika ini Ramadhan terakhirku, ingin sekali aku meminta maaf pada mama dan papa atas semua kata dan perilakuku yang menyakitkan mereka. Memohon doa dan keikhlasan mereka demi kebaikanku. Aku pun ingin meminta maaf pada adikku yang kini menjadi orang terdekatku.

Jika ini Ramadhan terakhirku, aku pun ingin meminta maaf pada keluarga besarku, sahabat, teman dan orang-orang yang mengenalku atas segala ucap dan laku yang dengan sengaja ataupun tidak sengaja menyakiti. Aku memohon maaf dengan segenap hatiku. Mohon dimaafin ya.

Karena besok sudah memasuki bulan Ramadhan, aku ucapkan 'Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan. Semoga ibadahnya lancar, berkah dan dirahmati Allah SWT. Aamiin' 😊


Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Newer Posts
Older Posts

Slice of Lyfe

Labels

  • PERSONAL THOUGHT
  • POEM
  • REVIEW
  • TRIP

Popular Posts

  • Menjadi Seorang INFP
  • Pengalaman Mempunyai Akun Online Dating
  • Kursus Online di Udemy
  • MENIKAH.
  • Menikmati Kopi di Tuang Cafe

Blog Archive

  • ▼  2019 (1)
    • ▼  February 2019 (1)
      • Firefly Coffee Shop, Menawarkan Kopi Khas Papua
  • ►  2018 (32)
    • ►  December 2018 (1)
    • ►  September 2018 (1)
    • ►  August 2018 (2)
    • ►  July 2018 (5)
    • ►  June 2018 (7)
    • ►  May 2018 (5)
    • ►  April 2018 (3)
    • ►  March 2018 (3)
    • ►  February 2018 (1)
    • ►  January 2018 (4)
  • ►  2017 (11)
    • ►  December 2017 (11)
Blogger Perempuan

Created with by ThemeXpose