Jogja Istimewa, Part 2

by - December 15, 2017


Stok foto di Jogja masih ada nih, lanjutin postingan sebelumnya ah, hehe.
Hari kedua di Jogja, kami (aku, Mama dan Adek) cuma berencana mengunjungi tempat-tempat yang dekat saja karena sorenya kami sudah harus pulang. Pagi-pagi kami sengaja gak sarapan di penginapan karena pingin makan nasi pecel yang ada di Jalan Malioboro. Karena jarak dari penginapan ke Malioboro dekat, kami berjalan kaki sambil menikmati Jogja di pagi hari. Sampai di Jalan Malioboro, kami melihat kerumunan orang di plang Jalan Malioboro, ternyata mereka lagi antri untuk foto di bawah plangnya itu. Denger-denger sih plang Jalan Malioboro jadi salah satu spot yang paling hits untuk berfoto.


Sebagai kids zaman now, si Adek juga minta difoto.

Setelah selesai sarapan, kami langsung ke Taman Sari. Konon, Taman Sari ini dulunya adalah taman Keraton Yogyakarta yang biasa dijadikan tempat rekreasi oleh raja keraton dan keluarga. Di dalamnya ada kolam pemandian gede yang biasa dipakai oleh selir-selir, makanya Taman Sari sering juga disebut Istana Air. Dari pintu masuk kita bisa langsung menemukan kolam pemandian itu.


Kolam pemandian para selir kerajaan.

Seperti prediksi sebelumnya, di Taman Sari pun rameee banget. Butuh perjuangan untuk berfoto dan gak jamin kalo hasil fotonya tanpa photobomb, haha. Apalagi untuk foto di Mesjid bawah tanahnya. Karena bentuknya yang unik, spot mesjid bawah tanah ini jadi incaran traveller yang datang ke Taman Sari, sampai-sampai untuk berfoto di spot ini kami harus antri. Warbiyasa yak! Dan karena ketidakpiawaian aku dalam mengambil foto, hasil foto disini gak bagus, soalnya diburu-buru sama orang lain yang mau foto juga, huft.
Gak paham kenapa Mama posenya megang perut begitu --"

Dari Taman Sari, kami langsung menuju Keraton Yogyakarta. Di Keraton, kami melihat-lihat berbagai koleksi milik kesultanan, replika pusaka keraton, gamelan dan bangunan-bangunan keraton yang memiliki arsitektur khas istana Jawa.




Di Keraton, kami juga menikmati pertunjukan seni gamelan dan seni tari. Katanya sih pagelaran gamelan ini diadakan setiap hari dan gratis di Keraton.



Hari udah semakin siang dan perut mulai laper jadi kami sepakat untuk menyudahi keliling-keliling di Keraton dan pergi nyari makan. Sebelumnya aku sempat browsing tempat makan apa yang lagi ngehits di Jogja dan memutuskan untuk mencoba ke The House of Raminten.



Saat memasuki The House of Raminten, aku bisa langsung merasakan nuansa tradisional Jawa yang sangat kental, interiornya nyeni dan aroma dupa bisa tercium dengan jelas. Ada deretan bangku untuk menunggu bagi para pengunjung yang belum kebagian meja makan yang tersedia. Di dekat ruang tunggu, aku juga melihat ada kereta kuda yang dipajang dengan apik.

Kami diantar oleh waiter ke lantai dua untuk menempati meja makan lesehan yang tersedia. Oia, seragam waiters disini juga terbilang unik. Waiter wanita memakai kemben dan jarik sedangkan waiter prianya memakai kaos dengan rompi dan jarik. Aku memesan nasi rawon dan kalo menurutku sih rasanya biasa aja. Lamanya waktu dari memesan makanan sampai makanan disajikan cukup lama, jadi agak bikin bete ya kalo untuk orang yang lagi laper. Secara keseluruhan nilanya 7/10 lah yaa.
Nah selesai deh liburan di Jogjanya...

You May Also Like

0 comments