Mencari Filosofi di Kedai Kopi

by - December 11, 2017

Kedai kopi yang terletak di Jl Melawai VI Blok M, Kebayoran Baru ini terkena imbas dari kesuksesan buku fiksi karya Dewi Lestari dan film yang disutradarai oleh Angga Dwimas Sasongko yang berjudul Filosofi Kopi. Kesuksesan kedai kopi yang diberi nama sama dengan judul buku dan film itu ditandai oleh tidak pernah sepinya kedai tersebut dari pengunjung.

Berbagai macam motif pengunjung yang datang ke Filosofi Kopi, mulai dari sekedar ingin dicap anak kekinian karena nongkrong di tempat yang lagi hyped banget, ingin membandingkan imajinasi mereka dengan keadaan kedai Filosofi Kopi yang sebenarnya, atau yang benar-benar ingin menikmati kopi.

Mungkin aku termasuk orang yang ingin membandingkan imajinasiku dengan keadaan real kedai kopi yang sedang ngehits di Jakarta itu. Memang sih kedai kopi ini sudah bisa dilihat penampakannya dalam film tapi karena aku belum nonton filmnya jadi bekalku tentang kedai kopi ini hanya sebatas imajinasiku dari membaca cerita fiksinya saja.

Berbekal informasi dari mbah Google mengenai lokasi kedai Filosofi Kopi, aku berangkat menuju Blok M untuk menemukan kedai kopi tersebut. Setelah sampai di Blok M aku bertemu dengan temanku, Umu, yang memang sudah janjian untuk bertemu disana. Ternyata tidak begitu mudah untuk menemukan lokasi Filosofi Kopi, kami sempat bingung dan sampai berkeliling di sekitar Blok M Square. Setelah bertanya-tanya akhirnya kami menemukan tempatnya.

Menempati bangunan tua di deretan toko dan ruko membuat kedai Filosofi Kopi terkesan tersembunyi. Selain itu, tidak ada tanda yang menunjukkan bahwa tempat itu adalah sebuah coffee shop. Tidak ada plang nama, pun tulisan nama kedai kopi dalam huruf yang dicat di sebuah jendela kaca besar seperti dalam fiksi.

Kami langsung menemukan 'Jody' di belakang mesin kasir setelah membuka pintu kaca kedai itu. Di sebelahnya terlihat 'Ben' yang sedang asyik bermain-main dengan segala macam perkakas untuk meracik kopi pesanan pelanggan. Aku memesan secangkir caffe latte panas dan churros sedangkan temanku memesan cappuccino dingin dan waffle.

Aku duduk di sebuah kursi besi tua berwarna biru yang catnya sudah mengelupas. Sambil menunggu 'Ben' membuatkan kopi pesanan kami, aku mengamati interior kedai tersebut. Dinding bata merah dan material kayu mendominasi ruangan. Di tengah ruangan terdapat order table tempat 'Ben' dan 'Jody' melakukan 'pertunjukan'. Meja dan bangku-bangku kecil mengelilingi order table. Di tembok bagian belakang terdapat signature logo berupa cangkir kopi yang menjadi icon kedai Filosofi Kopi. Tempat ini sangat nyaman untuk have a little chit chat with friends, tapi jangan harap bisa mengerjakan tugas atau browsing-browsing manja disini karena no wi-fi here. Kata mas-nya sih biar ngobrol sama temen-temennya lebih berkualitas.

Kedai kopi yang terletak di Jl Melawai VI Blok M, Kebayoran Baru ini terkena imbas dari kesuksesan buku fiksi karya Dewi Lestari dan film yang disutradarai oleh Angga Dwimas Sasongko yang berjudul Filosofi Kopi. Kesuksesan kedai kopi yang diberi nama sama dengan judul buku dan film itu ditandai oleh tidak pernah sepinya kedai tersebut dari pengunjung.

Berbagai macam motif pengunjung yang datang ke Filosofi Kopi, mulai dari sekedar ingin dicap anak kekinian karena nongkrong di tempat yang lagi hyped banget, ingin membandingkan imajinasi mereka dengan keadaan kedai Filosofi Kopi yang sebenarnya, atau yang benar-benar ingin menikmati kopi.

Mungkin aku termasuk orang yang ingin membandingkan imajinasiku dengan keadaan real kedai kopi yang sedang ngehits di Jakarta itu. Memang sih kedai kopi ini sudah bisa dilihat penampakannya dalam film tapi karena aku belum nonton filmnya jadi bekalku tentang kedai kopi ini hanya sebatas imajinasiku dari membaca cerita fiksinya saja.

Berbekal informasi dari mbah Google mengenai lokasi kedai Filosofi Kopi, aku berangkat menuju Blok M untuk menemukan kedai kopi tersebut. Setelah sampai di Blok M aku bertemu dengan temanku, Umu, yang memang sudah janjian untuk bertemu disana. Ternyata tidak begitu mudah untuk menemukan lokasi Filosofi Kopi, kami sempat bingung dan sampai berkeliling di sekitar Blok M Square. Setelah bertanya-tanya akhirnya kami menemukan tempatnya.

Menempati bangunan tua di deretan toko dan ruko membuat kedai Filosofi Kopi terkesan tersembunyi. Selain itu, tidak ada tanda yang menunjukkan bahwa tempat itu adalah sebuah coffee shop. Tidak ada plang nama, pun tulisan nama kedai kopi dalam huruf yang dicat di sebuah jendela kaca besar seperti dalam fiksi.

Kami langsung menemukan 'Jody' di belakang mesin kasir setelah membuka pintu kaca kedai itu. Di sebelahnya terlihat 'Ben' yang sedang asyik bermain-main dengan segala macam perkakas untuk meracik kopi pesanan pelanggan. Aku memesan secangkir caffe latte panas dan churros sedangkan temanku memesan cappuccino dingin dan waffle.

Aku duduk di sebuah kursi besi tua berwarna biru yang catnya sudah mengelupas. Sambil menunggu 'Ben' membuatkan kopi pesanan kami, aku mengamati interior kedai tersebut. Dinding bata merah dan material kayu mendominasi ruangan. Di tengah ruangan terdapat order table tempat 'Ben' dan 'Jody' melakukan 'pertunjukan'. Meja dan bangku-bangku kecil mengelilingi order table. Di tembok bagian belakang terdapat signature logo berupa cangkir kopi yang menjadi icon kedai Filosofi Kopi. Tempat ini sangat nyaman untuk have a little chit chat with friends, tapi jangan harap bisa mengerjakan tugas atau browsing-browsing manja disini karena no wi-fi here. Kata mas-nya sih biar ngobrol sama temen-temennya lebih berkualitas.

Umu dan signature logo Filosofi Kopi

'Ben' mengantarkan pesanan kami. Segelas caffe latte panas dengan buih berbentuk angsa menjadi asupan kafeinku sore itu. Kopi yang begitu milky terasa sejak tegukan pertama. Crunchynya churros menjadi pelengkap saat menikmati sore di kedai itu. Setelah caffe latteku habis tak bersisa, aku dan temanku meninggalkan kedai.
Caffe Latte
Tak ada kartu Filosofi Kopi yang diberikan oleh 'Ben' saat kami meninggalkan kedai. Ada sedikit kecewa karena hal yang aku tunggu tidak ada. Padahal aku sengaja memesan caffe latte hanya untuk mengetahui filosofi yang terkandung pada kopi tersebut, haha. Walaupun keadaan kedai Filosofi Kopi yang sebenarnya tidak sesuai dengan imajinasiku, tapi overall kedai itu worth to visit sih, karena setelah hari itu aku rindu untuk menikmati secangkir kopi disana.

You May Also Like

4 comments

  1. menarik mbak. aku jg pnggemar kopi, salam kenal seesama BPers

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal juga. Wah bisa nih ngopi bareng :)

      Delete
  2. pengen ke sana tapi gak sempat2 juga. Abis baca postinganmu tambah kepengen aku

    ReplyDelete